BELAJAR DEWASA ALA INDONESIA - My articles - Publisher - Alumni Sejarah FIS UNNES
Monday, 05.Dec.2016, 2:21 AM
Main » Articles » My articles

BELAJAR DEWASA ALA INDONESIA

Semenjak lengsernya Soeharto, sebagai penguasa tunggal yang berkuasa penuh atas Indonesia selama 32 tahun pada 21 Mei 1998 kerusuhan demi kerusuhan muncul secara sporadik di negeri tercinta ini. Sebuah bentuk kekecewaan yang terluapkan dengan amarah membara rakyat Indonesia. Namun, kita tidak menyadari bahwa ternyata yang dirugikan bukan mereka yang sebenarnya menjadi sasaran kemarahan masyarakat akan tetapi masyarakat itu sendiri.

Mengapa kita tidak belajar dari sejarah, bahwa kekerasan dalam bentuk apapun yang rugi adalah diri kita sendiri, lingkungan kita sendiri, bahkan negeri kita sendiri. Mengapa kita tidak menjadi dewasa menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin laksana seorang ksatria yang berani mengakui kekurangan diri sendiri.

Sudah Tradisi

Dalam sejarah Indonesia menyebutkan bahwa sejak jaman Ken Arok mulai naik tahta dengan cara menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung di Singosari kemudian mengangkat dirinya sebagai raja baru kerajaan Singosari selalu diwarnai dengan aksi kerusuhan. Berlanjut kemudian pada masa-masa selanjutnya, Raden Wijaya yang naik tahta sebagai raja pertama Majapahit menumbangkan Jayanegara dengan cara licik yaitu berpihak kepada tentara China kemudian menyerang dari belakang saat bala tentara Mongol tersebut baru melakukan pesta kemenangan atas Jayanegara.

Tradisi kerusuhan (?) diakhir suatu kekuasaan tersebut berlanjut hingga pada masa era kemerdekaan Indonesia. Ketika Soekarno turun tahta pada tahun 1968 yang kemudian diganti oleh Soeharto, tidak kurang dari satu juta penduduk Indonesia yang harus meregang nyawa meski mereka tidak tahu kesalahannya apa pada masa itu.

Hal tersebut berulang kembali pada tahun 1998 yang lalu ketika sang Jenderal dipaksa turun oleh masyarakat Indonesia dari tampuk kekuasaannya. Banyak sekali warga yang menjadi korban tidak hanya nyawa akan tetapi banyak harta benda mereka di jarah oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan mementingkan perut mereka sendiri.

Tradisi kekuasaan ala pemerintahan Jawa memang tidak lagi ada di Indonesia. Akan tetapi tradisi kerusuhan senantiasa mewarnai setiap pergantian pemimpin di Indonesia, tidak hanya di tubuh sebuah partai akan tetapi setiap terjadi perhelatan pemilihan kepala daerah Negara Indonesia. Dan sepertinya pencarian pemimpin yang demikian menjadi momok baru bagi pemilihan pemimpin daerah di Indonesia saat ini.

Rentetan peristiwa kerusuhan baik kecil maupun besar tersebut terjadi tidak hanya di tubuh partai politik, bahkan keributan dan tindakan yang tidak perlu dicontoh tersebut juga terjadi di Gedung MPR. Seperti kata almarhum Gus Dur, tindakan para wakil rakyat  tersebut seperti anak TK bukanya membuat masyarakat nyaman namun malah membuat resah.

Hampir 90% pemilihan kepada daerah di Indonesia diwarnai dengan aksi-aksi tidak bertanggungjawab sebagai reaksi atas ketidak puasan pemilih atas hasil pemilu. Ada alasan karena kecurangan panitia, kecurangan saat penghitungan suara dan sebagainya. Dan ujung-ujungnya adalah aksi kerusuhan terjadi di daerah dimana dilaksanakan pemilihan daerah.

 

Banyak sekali contoh untuk menjelaskan keadaan ini, belum selesai kerusuhan pemilihan Gubernur Sulsel karena campur tangan MA, dan kemudian daerah–daerah lainnya ikut menyusul dengan kejadian yang serupa. Bahkan pada pemilihan presiden 2009 kemarin, dimana pasangan SBY-Boediyono menang mutlak atas rival politiknya Megawati-Prabowo dan pasangan Yusuf Kalla-Wiranto. Pihak yang kalah sepertinya tidak mau mengakui secara jantan kekalahannya tersebut, justru mencari kesalahan-kesalahan pihak yang menang dengan menunjukkan bukti-bukti yang dianggap sebagai bentuk kecurangan dari pihak yang menang. Meskipu pada akhirnya semua tuduhan itu tidak terbukti dimuka pengadilan.

Dan ada kemungkinan peristiwa-peristiwa serupa juga menunggu di daerah-daerah lain. Sepertinya kejadian kerusuhan sebagai akibat ketidakpuasan para pendukung calon sudah menjadi tradisi yang mengakar di negeri ini.

 Lantas bagaimana solusinya agar setiap pesta pemilihan kepala daerah yang tujuannya adalah memilih kepada daerah yang mampu memberikan perubahan bagi daerah benar-benar dapat tercapai? Tidak malah sebaliknya membuat warga masyarakat seharusnya aman, damai dan sejahtera menjadi panik, takut bahkan trauma dengan kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tersebut?

Belajar Dewasa

Sekarang apa yang seharusnya kita lakukan? Mengapa kita baru menyadari semua kejadian-kejadian tersebut setelah semuanya terjadi? Mengapa kita tidak pernah melakukan antisipasi akan terjadinya kejadian-kejadian tersebut? Sepertinya memang kita tidak akan pernah dewasa dalam hal ini. Mengapa demikian? Alasannya jelas sebab kita tidak pernah mau belajar dari kejadian-kejadian pada masa lampau atau yang paling dekat adalah dengan kejadian-kejadian yang terjadi di daerah lain di negeri ini.

Kita tidak usah berkilah, dengan alasan-alasan yang tidak beralasan seperti kerusuhan terjadi karena kecurangan dari salah satu calon kepala daerah, kerusuhan terjadi karena karakter orang di daerah berbeda-beda atau sebenarnya semuanya telah di antisipasi dengan sebaik-baiknya akan tetapi memang kejadian ketidakpuasan tersebut tidak dapat diantisipasi sebelumnya dan sebagainya. Alasan-alasan tersebut adalah bukti bahwa kita ini memang belum dewasa dalam demokrasi, belum siap menerima setiap kekalahan yang menimpa diri kita, kelompok kita atau kepentingan kita.

Apa sebenarnya yang harus kita lakukan agar kejadian yang tidak kita harapkan tersebut tidak terulang lagi? Jawabanya pasti kita harus belajar dewasa dalam berpolitik. Salah satunya adalah dengan mencontoh negeri adikuasa seperti Amerika Serikat. Bagaimana indahnya pelaksanaan demokrasi disana. Pemilihan Gubernur negara bagian sampai pemilihan presiden mereka sepertinya berjalan wajar, antusias dan hasilnya tetap dapat diterima dengan lapang dada oleh setiap calon dan para pendukungnya apabila mereka mengalami kekalahan.

Mengapa mereka dapat melakukan hal yang demikian? Padahal kita sama-sama melaksanakan prinsip demokrasi, dimana setiap kekalahan dapat diterima dengan tanpa memberikan alasan apapun sebab kekalahan adalah bagian dari sebuah demokrasi.

Lantas, apa yang harus kita tiru dari Amerika yang disebut bapaknya Demokrasi Dunia?. Jawabanya jelas, semuanya harus berawal dari diri kita masing-masing sebagai warga masyarakat, peran kita sebagai peserta demokrasi dan lebih utama lagi adalah para calon pemimpin di negeri ini.

Melakukan survey awal apabila mau mengikuti perhelatan pemilihan, apakah rakyat benar-benar mendukung kita dan mau menerima kita sebagai pemimpin mereka apabila nantinya dalam pemilihan kita adalah kandidat yang akan memenangkan pemilihan tersebut. Jangan mentang-mentang memiliki harta atau modal besar untuk maju dalam bursa calon pemimpin lantas menggunakan kekayaan atau modal tersebut tanpa memikirkan kapabilitas dan kapasitas kita sebagai seorang pemimpin. Semuanya berawal dari sini, sebab seorang pemimpin tidak muncul dengan sendirinya tanpa ada kualitas yang telah dibuktikan dan diakui oleh para pendukungnya.

Hal ini kelihatannya memang sulit dilakukan sebab sepertinya orang Indonesia sekarang ini memiliki prasangka terhadap diri mereka sendiri sebagai sosok yang benar-benar memiliki kelebihan dibandingkan dengan sosok lainnya. Sehingga apapun yang terjadi meski nantinya kalah dalam pemilihan mereka tetap maju, meski pada akhirnya mereka akan mengalami banyak kerugian sebagai akibat mereka tidak bisa melihat diri mereka sendiri. Menjauhkan sikap ”AKU” adalah salah satu akar masalah yang harus kita tumbuhkan di negeri ini. Sebab dengan mengakui kekurangan kita, kita akan menyadari apa nantinya yang akan terjadi andai saja kita tetap maju dalam sebuah pemilihan pemimpin.

Memang tidak mudah menjadikan diri kita dewasa dalam hidup ini sebab hidup memerlukan proses, akan tetapi bagaimana memanfaatkan proses tersebut benar-benar merasuk dalam diri kita adalah kunci utama dalam membangun demokrasi di negeri ini. Mengalah belum tentu kalah, mungkin bisa dijadikan pedoman diri kita dalam hidup ini dalam arti bukan menyerah sebelum bertanding atau menyerah sebelum kalah akan tetapi dengan mengetahui kekurangan diri kita harapannya adalah kebaikan bagi semua masyarakat.

Semoga kita bisa menjadi bangsa yang benar-benar dewasa, dewasa ala Indonesia yaitu dewasa yang mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, kelomppok atau golongan kita sendiri. (Wie’07)



Source: http://mustwiebagoes.blogspot.com
Category: My articles | Added by: alumnisejarah (01.May.2010) W
Views: 7644 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *: